seorang terpelajar dihukum karena mempunyai hati yang matibak! buk! bak! buk!. .adu jotos itu bkan terjadi di atas ring tinju atw antar pemain sepak bola. Tapi di halaman kampus. Malah terkadang di jalan raya, di dpan gerbng sekolah, di pusat perbelanjaan, atw di tengah keramaian kota.
swiing! pletak!. .lemparan batu it bkan brasal dri para calon jemaah haji yg sdg lthan mlempar jumroh. juga bkan dri para pejuang intifadah Irak,Afghanistan,or Palestina. bukn pula drah seorg ibu yg berjuang mmpertaruhkn hdup demi mlahirkn buah hatiny. tetesan darah it milik pelajar yg tengah berjuang di medan tawuran demi solidaritas,gengsi,atw predikat seorg jagoan yg ditakuti dn akhrny dsegani.
seraaang!...teriakan lantang itu bkan suara panglima perang kemerdekaan. tapi brasal dri seorg 'pentolan' yg ngasi komando kpada para 'prajurit putih abu-abu' untk memulai 'perang kolosal'. siapa yg dpat melukai lawan, dia hebat. siapa yg dapat menjatuhkn lawan, dia pahlawan. dan siapa yg kurang persiapan, brsiaplah jadi korban...
itulah fenomena tawuransobat, episode tawuran pelajar dan mahasiswa persis sinetron televisi. slalu brulang dan terus di ulang dri waktu ke waktu. inti ceritanya sama: saling pukul, adu jotos, kejar-kejaran, dan unjuk kekuatan dg senjata rakitan. yang beda cuman para pemainnya aja gonta-ganti. mentang-mentang tanpa casting, regenerasi aktivis tawuran di sekolah atw kampus brjalan mulus stiap tahun. mau sampai kapan?